Penutupan Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) pada awal dekade 1990-an bukan sekadar perubahan kebijakan pendidikan nasional, melainkan sebuah titik balik sejarah bagi ribuan alumni yang pernah ditempa di lembaga tersebut. PGA, yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pencetak guru agama di Indonesia, secara resmi dihentikan melalui kebijakan pemerintah yang mengintegrasikan pendidikan keguruan ke dalam sistem pendidikan menengah dan pendidikan tinggi keagamaan.
Kebijakan ini antara lain merujuk pada Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 1992, yang menandai berakhirnya PGA sebagai lembaga pendidikan keguruan tingkat menengah. Meski demikian, berakhirnya PGA sebagai institusi formal tidak serta-merta mengakhiri nilai dan semangat yang diwariskannya. Nilai-nilai tersebut justru menemukan jalannya sendiri melalui para alumni yang terus mengabdi di berbagai ruang kehidupan. Di Maluku Utara, daerah kepulauan yang memiliki tantangan geografis dan sosial yang tidak ringan, alumni PGA tumbuh menjadi pendidik, tokoh agama, aparatur pemerintahan, penggerak sosial, hingga pelaku konservasi lingkungan.
Pengabdian para alumni PGA di Maluku Utara tidak dapat dilepaskan dari konteks kewilayahan. Provinsi Maluku Utara termasuk dalam kategori daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) sebagaimana ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 131 Tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015–2019, yang kemudian diperbarui dengan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020–2024. Sejumlah wilayah di Maluku Utara, terutama daerah kepulauan dan pedalaman, masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan, transportasi, dan layanan publik.
Sebagai wilayah kepulauan, mobilitas antarpulau sangat bergantung pada cuaca dan musim. Kondisi ini sering kali menjadi penghambat distribusi layanan pendidikan dan pembinaan sumber daya manusia. Dalam situasi seperti ini, kehadiran sumber daya lokal yang berkomitmen menjadi sangat penting. Di titik inilah peran alumni PGA menemukan relevansinya, bukan hanya sebagai pendidik formal, tetapi sebagai penggerak sosial di tengah masyarakat.
Kesadaran akan pentingnya menjaga kebersamaan dan kesinambungan pengabdian melahirkan Ikatan Alumni Pendidikan Guru Agama Negeri Maluku Utara (IKAPGAMU). Organisasi ini menjadi wadah silaturahmi, konsolidasi gagasan, serta penguatan peran alumni PGA lintas angkatan. IKAPGAMU tidak berhenti pada ikatan nostalgia, tetapi berkembang sebagai ruang refleksi dan aksi kolektif dalam bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.
Momentum penting perjalanan IKAPGAMU salah satunya tercermin dalam pelaksanaan Reuni IKAPGAMU ke-VII yang berlangsung pada 23 hingga 28 Desember 2025 di kawasan wisata Danau Tolire, Kota Ternate. Reuni ini mempertemukan alumni lintas angkatan dalam suasana kebersamaan yang sarat makna, tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menyusun langkah pengabdian ke depan.
Ketua IKAPGAMU, Dr. Kasman Hi. Ahmad, alumni PGA tahun 1990 yang saat ini menjabat sebagai Wakil Bupati Halmahera Utara, menegaskan bahwa reuni alumni memiliki makna yang lebih luas dari sekadar temu kangen. “Kenangan masa lalu yang kita rangkai bukan berhenti pada sebatas nostalgia, melainkan memperkuat langkah pengabdian kita ke depan. Karena kita adalah insan yang lahir sebagai pendidik, walaupun di antara kita kini mengabdi di instansi dan bidang yang berbeda,” ujarnya.
Dari kesadaran kolektif tersebut, IKAPGAMU kemudian melahirkan sebuah lembaga pengabdian yang lebih terstruktur, yakni Yayasan Pendidikan Gerakan Pengembangangan Anak Maluku Utara (PGAMU). Yayasan ini didirikan dan digerakkan oleh IKAPGAMU sebagai wujud nyata komitmen alumni dalam memperkuat pendidikan dan pengabdian sosial-keagamaan di Maluku Utara.
Ketua Yayasan PGAMU, Sahjad M. Aksan, alumni PGA tahun 1991, menjelaskan bahwa pendirian yayasan ini berangkat dari kesadaran bersama akan pentingnya kesinambungan nilai dan kerja nyata. “Yayasan ini hadir atas dasar kesadaran akan pentingnya kebersamaan dan kesinambungan pengabdian. PGAMU menjadi ruang konsolidasi gagasan sekaligus sarana penguatan alumni dalam pendidikan agama dan sosial. Melalui yayasan ini, nilai-nilai PGA terus dirawat dan diwujudkan dalam kerja nyata berupa menghadirkan madrasah-madrasah di wilayah Maluku Utara,” ungkapnya.
