Mimbartimur.com – Meski mencatatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi yang tinggi, Provinsi Maluku Utara (Malut) dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan krusial di sektor riil. Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda menegaskan bahwa akses layanan kesehatan, keterbatasan konektivitas antarwilayah, serta kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal untuk industri masa depan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.
“Angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau besarnya investasi tidak cukup menjadi patokan keberhasilan pembangunan daerah. Kita harus memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Gubernur Sherly Tjoanda.
Menurutnya, sebagai wilayah kepulauan, keterisolasian daerah menjadi hambatan utama roda perekonomian. Sehingga, kata Sherly, pemerintah Provinsi Malut menargetkan perbaikan dan pembangunan.
“Untuk jalan ruas provinsis sekitar 550 kilometer hingga tahun 2030, sementara sekitar ruas kabupaten 1.900 kilometer di berbagai wilayah saat ini masih dalam kondisi menunggu penyelesaian bertahap,” ungkapnya.
Sementara Kepala Desa Soligi Madaisi La Siriali, mengatakan akses infrastruktur merupakan urat nadi menuju pelayanan publik dan pasar. Salah satu contoh nyata terlihat di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, melalui pembangunan Jembatan Akelamo yang menghubungkan Desa Kawasi dan Desa Soligi.
“Jembatan yang diinisiasi lewat program kemitraan dengan perusahaan swasta ini memangkas hambatan transportasi darat secara signifikan,” kata Madaisi kepada awak media.
Madaisi menjelaskan sebelumnya, warga harus menyesuaikan jadwal dengan arus air dan cuaca saat menyeberang. Sekarang akses jadi lebih aman, cepat, dan efisien. “Ini juga sangat membantu warga untuk mendapatkan layanan kesehatan dan pendidikan,” pungkasnya.
***
