Melalui Yayasan PGAMU, tidak hanya menjaga ingatan, tetapi juga menghadirkan masa depan bagi generasi muda, terutama anak-anak di wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan. Pendirian dan penguatan madrasah menjadi salah satu bentuk nyata dari ikhtiar tersebut. Keragaman latar pengabdian para alumni menjadi kekuatan tersendiri bagi IKAPGAMU.

Rahma Abdurrajak, tahun 1990 yang kini menjabat sebagai Kepala MIN 4 Tidore Kepulauan, mengungkapkan kebanggaannya menjadi bagian dari keluarga besar PGA. “Saya bangga menjadi bagian dari dan tergabung dalam IKAPGAMU, karena oleh dan dari lembaga itu terpatri pengabdian tanpa batas. Semoga PGA tetap dikenang sebagai lembaga yang telah melahirkan banyak tokoh agama dan pendidik berdedikasi dari untuk negara dan bangsa yang kita cintai,” tuturnya.

Sementara itu, Ikram M. Zen, tahun 1991 yang kini menjabat sebagai Camat Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, memaknai PGA sebagai fondasi nilai yang terus hidup dalam perjalanan pengabdian alumni. “PGA mengajarkan kami bahwa ilmu bukan untuk disimpan, tetapi untuk dititipkan pada kehidupan. Ketika PGA itu tiada, nilai-nilainya justru menemukan jalannya sendiri melalui pengabdian para alumni. IKAPGAMU hadir sebagai pengikat ingatan dan penguat langkah agar api pengabdian itu tetap menyala meski zaman terus berubah,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan oleh M. Taher Mujuddin, tahun 1988 yang saat ini bertugas sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Halmahera Tengah. “PGA mungkin telah berhenti sebagai lembaga, tetapi ia tidak pernah selesai sebagai nilai. Dalam IKAPGAMU, kami merawat warisan, menyatukan kenangan, menguatkan persaudaraan, dan mengembangkan pengabdian agar tetap bermakna bagi generasi setelah kami,” katanya.

Reuni IKAPGAMU tidak hanya diisi dengan temu kangen, tetapi juga dengan agenda-agenda substantif seperti bedah buku, ziarah ke makam alumni yang telah wafat, evaluasi kegiatan pendidikan yang telah berjalan, serta penyusunan rencana program tahunan Yayasan PGAMU dan IKAPGAMU. Model reuni semacam ini menegaskan bahwa kebersamaan alumni bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan energi kolektif untuk menjawab tantangan masa kini.

Sebagian juga mengabdikan diri di bidang konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, mendirikan sekolah-sekolah swadaya, serta melakukan pendampingan di wilayah penyangga hutan dan taman nasional. Nilai kedisiplinan, keteladanan, dan keberpihakan pada masyarakat kecil yang dahulu ditanamkan di bangku PGA menemukan wujud nyatanya dalam kerja-kerja tersebut.

IKAPGAMU dan Yayasan PGAMU hari ini berdiri sebagai bukti bahwa sebuah lembaga pendidikan boleh saja berhenti oleh kebijakan, tetapi nilai tidak pernah bisa dipadamkan. Nilai itu hidup dalam ingatan, bergerak dalam kebersamaan, dan tumbuh dalam pengabdian.

-- --

Dari , para menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu harus menunggu kemudahan atau fasilitas yang sempurna. Ia lahir dari kesadaran, dirawat dalam kebersamaan, dan diwujudkan dalam kerja nyata. PGA mungkin telah menjadi bagian dari sejarah, tetapi melalui IKAPGAMU dan PGAMU, nilai-nilainya terus berjalan menjadi pengabdian yang hidup, dari untuk Indonesia.

***