Mimbartimur.com – Seorang ibu Bhayangkari Satuan Brigade Mobil (Satbrimob) Polda Maluku Utara bernama Pipin Wulandari (36) harus menjalani operasi berat di Rumah Sakit Chasan Boesoirie yang disinyalir akibat perbuatan keji suaminya sendiri.
Belum diketahui pasti motif dugaan penganiayaan yang dialami korban hingga mengalami cedera berat. Informasi yang dihimpun mimbartimurcom, korban mengalami muntah darah, pendarahan telinga, retak tengkorak kepala, dislokasi tulang leher, dan pendarahan dalam perut kiri.
Informasi lain yang diterima, wanita kelahiran tahun 1990 itu merupakan ibu dua anak dan owner salah satu produk kecantikan di Kota Ternate. Sementara suaminya berinsial RD (37) alias Reyhan merupakan Anggota Batalyon C Satbrimob Polda Maluku Utara berpangkat Brigadir Polisi Kepala (Bripka).
Ibu dua anak itu ditemukan kedua orang tuanya dalam kondisi terbaring lesuh dan bersimpah darah dirumahnya yang berlokasi di Lingkungan Gipsi, Kelurahan Toboleu, Kecamatan Ternate Utara setelah mengirim pesan singkat dan telepon meminta pertolongan pada Minggu (22/03) sekitar pukul 23.35 WIT.
Tomijan Yasim, ibu korban menuturkan setelah menerima pesan minta tolong, dirinya kemudian mengajak sang suami untuk mendatangi tempat kejadian. Saat tiba, ia melihat putrinya sudah terkapar dengan kondisi telinga, hidung hingga kepala bersimpah darah.
“Kami langsung bergagas melarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Awalnya ke RS Islam namun karena dokter masih libur sehingga kami diarahkan ke RSUD Chasan Boesoirie,” ujar Tomijan kepada awak media, Senin (23/03).
Tomijan mengatakan putrinya kini menjalani proses operasi sekitar lima jam lalu yang berlangsung sejak pukul 13.00 WIT hingga waktu menunjukan pukul 18.00 WIT. Ia menyebut tindakan operasi itu dilakukan setelah hasil pemeriksaan yang menunjukan adanya pendarahan di bagian kepala.
“Operasinya belum selesai saat ini. Langkah ini dilakukan setelah dokter melakukan pemeriksaan yang hasilnya ada pendarahan di bagian kepala yang perlu tindakan operasi,” ungkapnya dengan raut wajah yang mengisyaratkan cemas dengan kondisi putrinya diruang operasi.
Lebih lanjut, Tomijan mengaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami putrinya sudah berulang kali terjadi paska menikah namun memilih diam demi mempertahankan hubungan pernikahannya. Sebelum menikahi putrinya, kata Dia, Reyhan pernah menikah lalu bercerai diduga akibat perbuatan yang sama.
