Suatu pagi di awal Desember 2025, matahari belum tinggi ketika embun masih menggantung di pucuk daun jagung di Desa Laromabati, sebuah desa pesisir di utara , Kabupaten , Maluku Utara.

Embusan angin dari laut membawa aroma asin, berpadu dengan harum tanah basah. Jarak beberapa meter dari pematang tanah, seorang lelaki tua berjalan perlahan, di punggungnya tersampir parang kecil.

Tagannya memegang tongkol-tongkol jagung muda yang dipakai menutup bagian jagung tua siap panen.

Adalah Sukur Kajijo, pria paruh baya yang telah menghabiskan separuh usianya sebagai petani. Pagi itu, seperti biasanya, Sukur datang lebih awal ke kebun untuk memeriksa setiap tanaman, menyingkirkan daun kering, dan memastikan jagung yang mulai mengeras lebih dulu dimangsa bayan.

Burung paruh bengkok dengan nama latin (Electus roratus) itu kerap datang berkelompok untuk memakan jagung.

Berbeda dari biasanya, kebun jagung masih tampak sunyi. Tak ada kawanan burung yang memekakkan telinga seperti masa panen beberapa tahun silam.

“Biasanya mereka datang paling lima sampai tujuh ekor, tidak sama seperti dulu,” kata Sukur saat ditemui wartawan di saungnya awal Desember 2025.

Tak jauh dari saung, bergelantungan seng-seng bekas yang diikat dengan batu kecil di sejumlah titik hamparan ladang. Pantulan suara nyaring saat seng beradu atau tertiup angin menciptakan gangguan untuk mengusir burung-burung terutama burung bayan yang kerap turun dari arah hutan mangrove yang letaknya di utara kebun, habitat alami mereka.

Kebun milik Sukur membentang sekitar sepuluh meter persegi, kurang lebih setara dua kali lapangan sepak bola kecil, dan berjarak sekitar sembilan kilometer dari rumahnya di Desa Laromabati. Tak hanya jagung, lahan itu juga ditanami padi ladang, cabai, tomat, serta sejumlah tanaman bulanan lainnya. Bagi Sukur, kebun bukan sekadar ruang produksi pangan, melainkan ruang hidup tempat konflik antara manusia dan satwa liar kerap muncul, terutama saat tanaman mulai memasuki masa panen.

“Dulu, sekitar sepuluh tahun lalu, bayan itu sangat banyak. Kalau tanam jagung, kami harus menginap di kebun,” kata Sukur mengenang. “Kalau ditinggal sehari saja, jagung yang hampir panen bisa habis dimakan,”lanjutnya.