Ia bercerita, konflik paling sering terjadi saat mulai mengeras dan siap dipetik, fase yang paling disukai burung bayan. Dalam beberapa musim tanam, hasil panen yang seharusnya mencukupi kebutuhan keluarga terpaksa berkurang karena lebih dulu menjadi santapan satwa liar.
“Jumlahnya begitu banyak hingga membuat petani kewalahan. Sekarang, burung-burung yang dianggap hama itu mulai menyusut jumlahnya,”katanya.

Sukur bilang, perubahan itu terasa nyata, bukan sekadar berkurangnya gangguan di kebun, tetapi juga habitat yang terdesak hingga perburuan. Dari sini, konflik satwa dengan manusia menguat akibat kurang pengetahuan konservasi di kalangan petani.

“Dulu itu datang berkelompok, 20 hingga 30 ekor, terutama di lahan yang dekat dengan hutan mangrove, karena itu memang habitat alami mereka,”tambah Syukur.

 

Di mata petani, lanjut Syukur, burung-burung menjadi hama karena jumlahnya yang tidak sedikit membuat petani kewalahan mengusirnya dari kebun.

“Saat itu cuma satu-dua kebun di sekitar sini, jadi semua turun ke situ. Jumlahnya puluhan ekor,” jelas pria 55 tahun itu.

Sekitar 300 meter dari kebun Sukur, membentang ladang milik Samrut, warga Desa Laromabati yang juga siap panen. Beberapa jenis dan tanaman lain seperti tomat, cabai hingga sayuran lilin tumbuh rapi di lahannya.

“Kakatua ( bayan) datang makan . Sangat mengganggu, tapi saya tidak pernah memasang perangkap,”kata Samrut memulai percakapan dengan Mimbartimur.com.

Baginya, burung bagian dari alam yang juga perlu dilestarikan. Samrut memilih alat pengusir tradisonal menggunakan bunyi-bunyian serta orang-orangan.

Dia menceritakan, tahun lalu, ia masih menjumpai puluhan ekor bayan, namun tahun ini jumlahnya menyusut. Padahal, banyak kebun warga yang siap dipanen.