Mimbartimurcom РDinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Maluku Utara bersama Dinas Kerjaninan Nasional Daerah (Dikrasnasda) menggelar dan Pendampingan .  Kegiatan tersebut digelar di Kelurahan Toboleu, Kota Ternate pada Selasa (11/06).

Kadis Perindag Maluku Utara Wahab menyampaikan yang diusung dalam Bimtek ini bertajuk ‘Pending '.¬† Kegiatan itu melibatkan teman-teman dengan menghadirkan instruktur dari Balai Besar Tenun dan Tekstil Bandung Ade Mulyana.

“Instruktur yang dihadirkan kompeten dibidangnya, melalui Bimtek ini kami berharap Tenun Koloncucu menjadi salah satu warisan tertua Maluku Utara yang terus berkembang kedepan”, kata Yudhitya saat ditemui mimbartimurcom.

Menurutnya, warisan budaya ini harus dijaga dengan melahirkan generasi baru melalui pendampingan agar tidak punah. Yudhitya menyebut Tenun Koloncucu menjadi simbol-simbol yang digunakan para Kapita Perang Kesultanan Ternate pada zaman dulu.

“Sesuai diskusi dengan Fanyira Kedaton Kesultanan Ternate, zaman dulu tenun ini menjadi simbol yang menandakan seorang pemimpin kapita perang. Salah satunya, yang menyilang dibahu dan melingkar di pinggang”, pungkasnya.

Perlu diketahui, Tenun Koloncucu merupakan karya seni tertua di Maluku Utara yang ditaksir berusia sekitar 300 – 400 tahun. Tenun ini terkahir kali di inventisir Dekranasda Kota Ternate pada tahun 2002 lalu dengan melibatkan empat orang penenun yang merupakan generasi keenam yang terancam punah.

Seiring berjalannya waktu, berkat pembinaan dan pendampingan Dekranasda Kota Ternate hingga saat ini terdapat sembilan orang penenun yang masih eksis melestarikan warisan budaya yang lahir sejak ratusan tahun lalu.

-- --

Lebih lanjut, Yudhitya menjelaskan pending merah hingga saat ini masih tersimpan di Kedaton Kesultanan Ternate atas restu pihak kesultanan. Motif tersebut diusulkan menjadi motif tenun yang kerap digunakan oleh pasukan soya-soya.

“Keterangan Jou Kalem Kesultanan Ternate H. Hidayatussalam, pending Kapita Perang ini pernah digunakan oleh pasukan Soya-Soya di bawah Komando Sultan Baabullah sejak 1975-1977 dalam melakukan peperangan mengusir portugis dari bumi moloku kie raha”, imbuhnya.

Ariana Aira
Editor
Mimbar Timur
Publikasi