Mimbartimur.com – Gelombang protes kader Partai Nasional Demokrat (NasDem) atas publikasi sampul Majalah Tempo bertajuk ‘PT NasDem Indonesia Raya Tbk’ telah memasuki wilayah Maluku Utara. Gerakan tersebut merupakan respons berantai yang menyoroti penggambaran visual Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh.
Dalam karikatur tersebut, tokoh sentral partai NasDem itu ditampilkan mengenakan kemeja putih dengan kancing terbuka tanpa jas, dan yang paling memicu kontroversi tampil tanpa mengenakan kaus kaki. Menurut para kader, penggambaran ini bukan sekedar ilustrasi aristik, melainkan sebuah serangan simbolik untuk mereduksi kewibawaan (authority) seorang pemimpin yang selama ini dikenal dengan gaya protokoler yang elegan dan tegas.
“Kami ingin menyentuh hati seluruh rekan-rekan jurnalis Indonesia, namanya jurnalisme harus hadir dengan penuh tanggungjawab, harus beretika. Ketua Umum Surya Paloh yang kami cintai merupakan tokoh, bagian dari fouding fathers dari pendiri bangsa ini,” kata Anggota Fraksi Partai NasDem DPRD Kota Ternate Nurlaela Syarif dalam orasinya, Rabu (15/04).
Penilaian Nurlaela terhadap karikatur Majalah Tempo telah melampaui batas kritik kebijakan, apalagi menampilkan tokoh panutan politik mereka dalam kondisi fisik yang ‘tidak utuh’ secara busana dinilai sebagai dehumanisasi dan pelecehan terhadap simbol partai. Suara berapi-api itu juga tak luput dari klaim kontribusi Surya Paloh terhadap kemajuan bangsa Indonesia.
“Gagasan-gagasan yang diberikan kepada kami selalu mengedepankan rasa tanggungjawab. Setidaknya kami menghargai kebebasan pers, tapi kebebasan pers yang mengedepankan etika, konten-konten diera transformasi digital saat ini banyak penafasiran dan pemaknaan terhadap simbol-simbol. Kami berharap Tempo mengedepankan etika, NasDem mengedepankan kebebasan yang beretika,” sambungnya.
Nurlaela bahkan mengklaim permohonan maaf media Tempo paska unjukrasa ratusan kaders NasDem di depan Kantor Palmerah, Jakarta pada Selasa (14/04/26) lalu menandakan adanya kekeliruan terhadap konten, isi berita, wacana dan opini yang berkembang terhadap partai besutan Surya Paloh. Tak hanya itu, klaim-klaim politik tanpa mahar lahir dari partai mereka hingga menjadi unjuk tombak dari seluruh partai politik di Indonesia.
“Partai kami ini berdiri kokoh, sejak berdiri sudah menegakan gerakan restorasi perubahan untuk Indonesia sehingga partai kami tidak menegakan ekonomi, partai kami tidak bersifat materialistis. NasDem menjadi partai pertama yang mengedepankan politik tanpa mahar. Untuk itu kami menuntut Tempo mengklarifikasi dengan serius dan mengedepankan etika media karena itu menjadi hak seluruh kader NasDem,” pungkasnya.
Terpisah, mimbartimurcom mengirim sejumlah pertanyaan kepada Akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) M. Nofrizal Amir terkait gerakan berantai kader Partai NasDem, langkah hukum atas sengketa jurnalistik, hingga pemenuhan asas-asas jurnalistik yang ditampilkan Majalah Tempo dalam edisi 13 April.
Menurutnya, dalam sistem demokrasi media memiliki fungsi kontrol terhadap kekuasaan sehingga setuju atau tidak terhadap produk jurnalistik media Tempo merupakan bagian dari praktik jurnalisme interpretatif dan analitis yang tentunya bukan sekadar penyampaian fakta, tetapi juga pembacaan atas dinamika politik.
