Mimbartimur.com pernah menemukan warga di Desa Wayasipang memelihara dua ekor nuri bayan di rumahnya. Satwa itu diikat dengan kuningan di kayu. Menurut pemilik, burung-burung itu dibeli dari warga setempat yang sering menangkap burung menggunakan perangkap.
“Saya hanya suka pelihara saja,”kata warga yang dijumpai di rumahnya.
Nuri Bayan-Maluku: Spesies Endemik dengan Wilayah Terbatas
Untuk memahami mengapa konflik antara petani dan nuri bayan-maluku terus berulang, penting melihat karakter ekologis burung ini. Berdasarkan data Birds of the World yang dikelola Cornell Lab of Ornithology, nuri bayan-maluku (Eclectus roratus) merupakan salah satu burung paruh bengkok paling mudah dikenali di Kepulauan Maluku, namun memiliki ketergantungan tinggi terhadap hutan dan lanskap alami.
Spesies ini umumnya hidup di kanopi hutan dan mencari makan secara berkelompok, terutama buah-buahan, biji, dan bunga. Dalam kondisi habitat yang masih utuh, nuri bayan-maluku jarang turun ke lahan pertanian. Namun ketika tutupan hutan berkurang, burung ini terdorong mencari sumber pangan alternatif, termasuk kebun jagung dan tanaman pangan milik warga.
Secara geografis, sebaran nuri bayan-maluku meliputi sebagian besar Kepulauan Maluku, termasuk Halmahera, Ternate, Bacan, Obi, Seram, hingga Kepulauan Aru. Namun catatan Cornell menunjukkan, di sejumlah pulau seperti Ambon, Saparua, dan Haruku, spesies ini dilaporkan telah menghilang sejak akhir 1990-an. Penyusutan wilayah sebaran ini mengindikasikan tekanan habitat yang serius dan berkelanjutan.
Fenomena itu menjelaskan mengapa dalam satu dekade terakhir, kemunculan nuri di kawasan kebun semakin sering terjadi. Konflik yang muncul bukan semata karena perilaku satwa, melainkan akibat perubahan bentang alam yang mempersempit ruang hidupnya.
Dari sisi morfologi, nuri bayan-maluku memiliki ciri yang sangat mencolok. Burung jantan berwarna hijau terang dengan paruh jingga kekuningan, sementara betina berwarna merah menyala dengan paruh hitam. Perbedaan ini membuat spesies ini mudah dikenali warga, sekaligus menjadi sasaran empuk perburuan dan perdagangan ilegal, terutama ketika turun ke kebun secara berkelompok.
Data Cornell juga mencatat bahwa meski secara global spesies ini masih tergolong umum, di tingkat lokal populasinya rentan mengalami penurunan drastis jika kehilangan habitat terjadi terus-menerus. Nuri bayan-maluku hanya berkembang biak di lubang-lubang pohon besar, sehingga penebangan hutan berdampak langsung pada keberhasilan reproduksinya.
Dengan kata lain, konflik yang hari ini dirasakan petani sesungguhnya merupakan gejala dari masalah yang lebih besar, penyempitan habitat dan terganggunya keseimbangan ekosistem. Ketika hutan menyusut, nuri tidak punya banyak pilihan selain mendekat ke ruang hidup manusia.
Liputan ini merupakan fellowship Burung Indonesia.
