“Setelah , kasusnya jauh berkurang. Dari 2023 sampai sekarang, baru satu kasus yang kami tangani bersama kepolisian,” jelas Abas.

Pendekatan Persuasif dan Penyerahan SukarelaMeski penindakan tetap dilakukan, BKSDA kini lebih banyak mengedepankan pendekatan persuasif. Patroli lapangan dan sosialisasi dilakukan langsung ke masyarakat yang memelihara burung dilindungi.

“Kami datangi orang per orang, kami jelaskan bahwa jenis ini dilindungi dan tidak boleh dipelihara. Banyak yang akhirnya sadar dan menyerahkan burungnya secara sukarela,” kata Abas.

Ia menyebut kerja sama dengan organisasi masyarakat sipil, termasuk Burung Indonesia dan mitra lingkungan lainnya, turut membantu penyampaian informasi di tingkat tapak. “Kalau ada informasi warga menangkap atau memelihara burung, biasanya mitra juga langsung memberi tahu kami,” tambahnya.

Dari Barang Bukti hingga Pelepasliaran
Dalam kasus perdagangan yang diproses hukum, burung-burung sitaan biasanya diserahkan kepada BKSDA untuk dirawat selama proses hukum berjalan.

“Burungnya kami rawat sebagai barang bukti. Setelah kondisinya sehat dan proses hukum selesai, kami koordinasikan dengan penyidik dan kejaksaan untuk pelepasliaran,” jelas Abas.

Pada Juli 2025, BKSDA Maluku–Maluku Utara melepasliarkan sekitar 30 ekor Ternate di wilayah Pulau Morotai, hasil sitaan dari kasus sebelumnya. Pelepasliaran dilakukan bersama kepolisian dan melibatkan masyarakat setempat.

-- --

“Masih ada sekitar tujuh ekor lagi yang akan segera dilepas. Prinsipnya, kalau sudah sehat dan siap, kami kembalikan ke habitatnya,” katanya.

Bagi Abas, perlindungan burung paruh bengkok bukan semata soal hukum, melainkan upaya mencegah kepunahan di alam liar. “Kalau sudah habis di alam, mau cari dari mana lagi? Itu sebabnya pengawasan kami perketat, supaya satwa ini tidak tinggal cerita,” ujarnya.

Pernyataan ini mempertegas bahwa berkurangnya kehadiran di kebun-kebun warga bukan hanya soal perubahan konflik pertanian, tetapi juga indikator tekanan serius terhadap satwa liar di Maluku Utara, tekanan yang perlahan mereda, namun belum sepenuhnya hilang.