Setelah doa, warga melaksanakan makan bersama atau Jodhangan. Hidangan yang disajikan merupakan hasil olahan bersama, dinikmati tanpa sekat status sosial, mencerminkan nilai kesetaraan dan kebersamaan. Suasana kekeluargaan terasa kuat, menghadirkan kegembiraan yang sederhana namun bermakna.
Untuk memeriahkan syukuran bakda panen, warga Sakkidul Gandu menggandeng Kelompok Sedhut Senut. Kelompok ini menghadirkan hiburan berupa sandiwara berbahasa Jawa dengan lakon singget berjudul Syukuran Bakda Panen.
Selain itu, warga juga bekerja sama dengan Padepokan Wargo Budoyo yang menampilkan berbagai tarian. Beberapa tarian yang ditampilkan antara lain Tari Soreng dan Tari Kipas Mega.
Syukuran pasca panen ini juga memiliki makna sebagai rangkaian awal untuk menyambut Sedekah Bumi, yang secara penanggalan Jawa jatuh pada hari Senin Pahing.
Hari tersebut dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan sedekah bumi, sebagai puncak ungkapan syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah hasil bumi.
Dengan demikian, syukuran bakda panen menjadi pengantar spiritual dan sosial menuju perayaan sedekah bumi yang lebih besar.
Melalui kegiatan ini, warga Sakkidul Gandu tidak hanya merayakan hasil panen, tetapi juga meneguhkan identitas sosial dan budaya mereka.
Tradisi Jodhangan syukuran bakda panen menjadi bukti bahwa nilai gotong royong, kebersamaan, dan pelestarian budaya masih terjaga kuat.
Di tengah perubahan zaman, warga Sakkidul Gandu menunjukkan bahwa harmoni antara manusia, alam, dan budaya dapat terus dirawat melalui tradisi yang hidup dan bermakna.
